All this talk of getting old
It’s getting me down my love
Like a cat in a bag, waiting to drown
This time I’m comin’ down
And I hope you’re thinking of me
As you lay down on your side
Now the drugs don’t work
They just make you worse
But I know I’ll see your face again
Now the drugs don’t work
They just make you worse
But I know I’ll see your face again
But I know I’m on a losing streak
‘Cause I passed down my old street
And if you wanna show, then just let me know
And I’ll sing in your ear again
Now the drugs don’t work
They just make you worse
But I know I’ll see your face again
‘Cause baby, ooh, if heaven calls, I’m coming, too
Just like you said, you leave my life, I’m better off dead
But if you wanna show, just let me know
And I’ll sing in your ear again
Now the drugs don’t work
They just make you worse
But I know I’ll see your face again
(the drugs dont work by the verve)
last nite, salah satu temen gwe waktu jaman sma tele. i used to call her ‘mamay’
cewe yang gwe kenal dari awal jaman sma. putih, mata agak sipit, rambut lurus, orang pasti mikir dia ini keturunan tionghoa, in fact, dia jawa asli…nama aslinya aja sri wahyuningsih..asal nama mamay darimana, gwe ga gitu ngerti. yang jelas dari awal kenal, dia nyebutin namanya ‘mamay’ dengan nada tegas.
dengan suara serek2 basah khas mamay, dia say hello, apa khabar?
dia lagi dalam perjalanan ke tangerang, sama teman (entah teman apa)
dari ngobrol yang singkat itu, dia cerita bahwa belum banyak perubahan berarti dalam hidupnya.
dia minta no. hape gwe dan beberapa menit setelah selesai bicara di tele, dia sms gwe
intinya ya itu tadi, belum ada perubahan. semua masih cenderung sama, jalan ditempat, statis bahkan kalo boleh bilang ‘memprihatinkan’.
masih bergulat dengan drugs, apapun itu nama dan jenisnya.
‘Nda, gwe sekarang belum banyak berubah, tapi gwe baik2 aja, dan udah ngga terlalu addict lagi, gwe tele elo supaya elo ga ngeri ntar kalo ketemu gwe. gwe cuma…..kok, udah ngga….lagi’
‘May, gwe seneng dpt khabar dari elo. as a friend, gwe berharap elo bs sembuh, apapun namanya, ….tetep drugs, ga ngasih apa2 kecuali hancur. jaga diri baik-baik ya, gwe doain elo bisa sembuh dan bisa hidup lebih baik lagi :). Allah sayang sama elo, masa elo ga sayang sm diri sendiri?’
‘ya amin, semoga Allah melindungi kita dan mengabulkan doa2 kita. thanks sis’
hmm…may..may…
gwe minta maaf karena ga bisa bantu banyak, tapi gwe akan terus berdoa bwat kebaikan elo.
terkait dengan film-nya cornelia agatha yang heboh dengan adegan (maaf) masturbasi dan ciuman sesama jenis plus ga ketinggalan adegan nge-drugs nya…
terlepas dari pro-kontra yang sudah biasa terjadi, gwe sendiri ga ngerasa aneh dan asing dengan hal2 seperti itu, itu memang realitas yang ada, tapi ga di semua tempat di indonesia.
realitas yang pernah terjadi didepan mata gwe bwat beberapa waktu lamanya.
kutipan seorang mantan drugs addict:
berada di lingkungan pecandu dan pengedar. dari yang kelas teri sampe yang kelas kakap
dari yang ’sakaw’ dengan pilek2 kecil sampai yang kejang2 dan akhirnya meninggal
mengalami ‘badai’ dari yang tingkahnya pecicilan ngoceh ga karuan sampe yang diam seribu bahasa menikmati biusan yang membuat jantung berdetak pelan dan denyut nadi hampir tak teraba.
dari mulai yang dihisap sampai di alirkan ke pembuluh darah dengan jarum kecil yang menusuk perlahan. rasanya tanpa ampun ketika badan menjadi gemetar, meriang, tulang punggungku serasa ditarik lalu disatukan lagi dengan keras, remuk!!
hidungku berair, mataku nanar tak dapat melihat dengan jelas, bibirku kelu, kulitku kering nyaris mengelupas dan urat-urat ku mengeras karena kebal dengan jarum suntik yang berulang kali menusuk.
aku menangis, aku menjerit, aku mengerang, aku meringkuk, aku menghantam segala apa yang ada dihadapanku. nyawaku seperti setengah2 meninggalkan jasadku. rohku seperti ditarik dan didorong masuk kembali dari tubuhku. sakit tak terperi. berulang kali aku hampir mati dibuatnya.
tapi ketika benda itu masuk ke tubuhku, menjalar lewat urat dan merasuk ke otak, tiba2 semua rasa sakit itu hilang, entah kemana, akupun tak tahu…
yang aku rasa hanya tenang, tenteram dan sejuk. aku tak perduli walau diluar sana gunung meletus ataupun atom meledak lagi. aku hanya bisa merasakan kepalaku ringan, jantungku berdegup pelan dan tiba2 perutku mual, kepalaku pening dan…ahh indahnya dunia ketika ‘jackpot’..aku memejamkan mataku dan tertidur.
aku tak perlu nasi tak butuh air, percuma, karena setiap kali aku makan dan minum, hanya akan ku muntahkan. bikin kotor saja.
namun beberapa jam kemudian, kembali lagi hidungku berair, mataku nanar, bibirku kelu….
terus begitu sampai akhirnya teguran itu datang. teguran keras yang membuatku sadar…’
dear Mamay, ga tahu udah berapa banyak temen2 gwe yang harus pergi karena serbuk sialan itu
alm chandra, oi, neswal, oky, yoyok, denny, kutil, abang, adhi gendut, uuhh entah lah, udah lupa..
berapa banyak yang hancur dan nasibnya ga jelas sampe sekarang..
rasanya ga abis2 penyesalan gwe tiap kali denger adalagi yang harus pergi karena itu.
dahi gwe udah lelah mengernyit. cukup deh, ga perlu lagi ada korban jatuh
termasuk elo may…
drugs, narkoba, naza, apapun namanya…drugs tetep drugs
drugs ga akan bawa apa2 selain musibah dan kehancuran, cepat atau lambat
jangan sampai berakhir dengan kematian lagi deh
ga kebayang dengan apa membayar semua dosa dan sakit itu di akhirat kelak
semua orang tahu drugs itu bahaya
tapi ga semua orang mau tahu tentang orang2 yang terjerumus ke lembah nista itu, entah sengaja ataupun tidak.
‘jangan mimpi untuk bisa merubah mereka kembali ke jalan yang benar, mereka hanya akan hidup dalam alam mereka sendiri, seperti ikan yang ngga akan bisa bertahan hidup di daratan’
itu salah satu pendapat yang gwe sempet dengar semalam di stasiun radio swasta, ga tau apa nama acaranya..
dan benernya gwe pengen bilang
‘bukan mimpi yang diperlukan untuk membantu mereka, tapi tindakan dan dorongan yang setia. menjauhi dan mengasingkan mereka hanya akan buat mereka semakin tenggelam dan memperluas jaringannya. jadilah teman dan pendengar yang baik, karena ngga ada yang ngga mungkin didunia ini’
semoga cepat sembuh ya may
love you sist’
linda